Jumat, 25 Desember 2009

Makalah Masalah Kemiskinan di Kota Bekasi

Makalah
Masalah Kemiskinan
di Kota Bekasi








Disusun Oleh :
Nama : Rizky Rufaida Sari
NPM : 31208096
Kelas : 2 DD 04




Universitas Gunadarma
2009

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas segala nikmat dan karunia-Nya, sehingga pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan dan menyusun makalah yang berjudul “Masalah Kemiskinan di Kota Bekasi “
Kemiskinan merupakan salah satu penyakit sosial yang melanda kota Bekasi. Sebagai salah satu kota satelitnya Jakarta, ternyata Bekasi belum bisa terlepas dari masalah kemiskinan. Masalah kemiskinan bertambah kompleks dengan kenaikan harga BBM. Kenaikan harga BBM memicu munculnya orang-orang miskin baru, sehingga pemerintah kabupaten Bekasi diharapkan mampu menyelesaikan masalah kemiskinan ini.
Sebagaimana manusia yang tidak dapat luput dari kesalahan, penulis menyadari banyaknya kekurangan dan kesalahan yang ada dalam penulisan makalah ini. Maka dari itu penulis berharap adanya kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca sebagai bahan acuan dalam pembuatan makalah berikutnya.

Bekasi, 31 Desember 2009
Penulis












DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
I.I Latar Belakang Masalah 1
I.II Rumusan Masalah 1
I.III Tujuan Penulisan Makalah 1
BAB II ANALISIS PERMASALAHAN 2
II.I Pengertian Kemiskinan 2
II.II Dimensi Kemiskinan 3
II.III Indikator Kemiskinan 3
II.IV Gambaran kehidupan masyarakat Kota Bekasi 3
II.V Faktor-faktor penyebab kemiskinan di Kota Bekasi 4
II.VI Strategi penanggulangan kemiskinan di Bekasi 5
BAB III PENUTUP 7
III.I Kesimpulan 7
III.II Saran 7





BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang Masalah
Sejak awal kemerdekaan, bangsa Indonesia telah mempunyai perhatian besar terhadap terciptanya masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana termuat dalam alinea keempat Undang-Undang Dasar 1945. Program-program pembangunan yang dilaksanakan selama ini juga selalu memberikan perhatian besar terhadap upaya pengentasan kemiskinan karena pada dasarnya pembangunan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meskipun demikian, masalah kemiskinan sampai saat ini terus-menerus menjadi masalah yang berkepanjangan, khususnya di Kota Bekasi
Kehidupan masyarakat Bekasi yang makin berkembang dari Agraris menuju industri. Banyak lahan-lahan pertanian diubah menjadi pabrik-pabrik yang megah. Kawasan-kawasan industri mulai memperluas lahannya. Lahan-lahan pertanian produktif pun telah menjadi perumahan-perumahan penduduk, dan nasib para petani semakin terjepit bagi mereka yang tidak sanggup atau tidak diterima menjadi buruh pabrik, dan akhirnya menjadi pengangguran.
Berdasarkan uraian diatas, maka relevan sekali apabila penulis mengangkat topik “Kemiskinan di Kota Bekasi” , sebagai judul dalam penulisan makalah ini.
I.II Rumusan Masalah
Dalam tugas terstruktur individu ini, penyusun yang membahas mengenai masalah kemiskinan, didapatkan rumusan masalah yang akan dibahas dalam analisis permasalahan. Rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut: “Apa yang menjadi masalah dasar dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia”.
I.III Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dibuatnya makalah yang membahas tentang kemiskinan di Indonesia ini adalah sebagai berikut:
1. Menumbuhkan kesadaran masyarakat Indonesia yang mampu dalam hal materi agar ikut berperan serta untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia.
2. Memberikan informasi kepada masyarakat Indonesia untuk menghadapi kemiskinan yang merupakan tantangan global dunia ketiga.
3. Untuk mengetahui sejauh mana upaya pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

BAB II
ANALISIS PERMASALAHAN
II.I Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan , pakaian , tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup . Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah "negara berkembang" biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang "miskin".
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
· Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
· Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
· Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.
Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untak memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan, sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari fihak lain yang membantunya.
Banyak pendapat di kalangan pakar ekonomi mengenai definisi dan klasifikasi kemiskinan ini. Dalam bukunya The Affluent Society, John Kenneth Galbraith melihat kemiskinan di Amerika Serikat terdiri dari tiga macam, yakni kemiskinan umum, kemiskinan kepulauan, dan kemiskinan kasus. Pakar ekonomi lainnya melihat secara global, yakni kemiskinan massal/kolektif, kemiskinan musiman, dan kemiskinan individu. Kemiskinan kolektif dapat terjadi pada suatu daerah atau negara yang mengalami kekurangan pangan. Kebodohan dan eksploitasi manusia dinilai sebagai penyebab keadaan itu. Kemiskinan musiman atau periodik dapat terjadi manakala daya beli masyarakat menurun atau rendah. Misalnya sebagaimana, sekarang terjadi di Indonesia. Sedangkan, kemiskinan individu dapat terjadi pada setiap orang, terutama kaum cacat fisik atau mental, anak-anak yatim, kelompok lanjut usia.
II.II Dimensi Kemiskinan
Kemiskinan dibagi menjadi beberapa dimensi, diantaranya :
· Kemiskinan yang diakibatkan globalisasi. Indonesia sebagai Negara Berkembang bisa menjadi pihak yang kalah dalam globalisasi, sehingga daerah industri seperti Bekasi dapat menjadi daerah dengan bertambahnya penduduk miskin.
· Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan. Kemiskinan akibat rendahnya. Kemiskinan pedesaan akibat peminggiran pedesaan dalam proses pembanguna perkotaan akibat kecepatan pertumbuhan perkotaan.
· Kemiskinan sosial. Kemiskinan yang dialami perempuan, anak-anak, dan kelompok minoritas.
· Kemiskinan konsekuensial, kemiskinan akibat faktor-faktor eksternal seperti konflik / bencana alam, kerusakan lingkungan, dan tingginya jumlah penduduk.
II.III Indikator Kemiskinan
Seseorang dapat dikatakan miskin apabila tidak dapat memenuhi kebutuhan dibawah ini, yaitu :
· Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan, dan papan).
· Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).
· Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
· Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan keterbatasan sumber daya alam.
· Tidak adanya akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
II.IV Gambaran Kehidupan Masyarakat Kota Bekasi
Setiap warga negara mempunyai hak asasi untuk dapat hidup dengan layak. Negara juga telah menjamin dalam pasal 27 ayat 2 yang berbunyi “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”.
Corak kehidupan masyarakat Bekasi beraneka ragam dengan berbagai jenis mata pencaharian misalnya petani, pedagang, buruh pabrik , nelayan, dan sebagainya. Dan tingkat pendapatannya pun berbeda.
Wilayah Bekasi sebagai salah satu kota satelitnya Jakarta atau kota penunjang Jakarta, letak wilayah yang strategis yaitu dekat dengan Ibu Kota Negara, jumlah penduduk yang melimpah, serta keanekaragaman budaya. Potensi-potensi tersebut dapat memajukan Bekasi bila dapat dimanfaatkan secara optimal.
Sekarang ini Bekasi mengembangkan diri dari wilayah agraris menuju industri. Dengan berkembangnya industri di Bekasi diharapkan akan memperluas lapangan pekerjaan dan mendorong income daerah akan tetapi perubahan itu menyebabkan banyak penyakit sosial seperti kemiskinan, kriminalitas, prostitusi dan pengangguran.
Munculnya pabrik-pabrik selain membawa dampak positf juga membawa dampak negatif. Masyarakat Bekasi yang semula hidup sebagai petani harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Sebagian masyarakat sudah siap menuju industri dari segi pendidikan dan mental dan sebagian lagi belum siap, karena tekanan kehidupan para petani banyak menjual lahan pertaniannya pada industri. Lahan-lahan pertanian produktif di Bekasi mulai berkurang berubah menjadi bangunan pabrik-pabrik megah. Para petani yang tidak sanggup atau tidak diterima menjadi buruh pabrik akhirnya menjadi pengangguran.
Pengangguran di Bekasi bertambah dengan banyaknya para pendatang dari wilayah jawa dan luar jawa untuk mengadu nasib. Pengangguran mendorong kemiskinan meningkat. Penduduk Bekasi yang berjumlah sekitar 4 jutaan dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 149.686 jiwa atau sekitar 3,74 % dari jumlah penduduk berada dibawah garis kemiskinan.
II.V Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan di Kota Bekasi
Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
· penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin;
· penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga;
· penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;
· penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
· penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.
Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negera terkaya per kapita di dunia) misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal melewati atas garis kemiskinan.
Selain faktor-faktor yang menyebabkan kemiskinan di Bekasi ada juga aspek-aspek yang dapat mempengaruhi kemiskinan diantaranya :
1. Aspek sosial, disebabkan adanya keterbatasan dalam interaksi sosial dan penguasaan informasi.
2. Aspek ekonomi, disebabkan adanya keterbatasan pemilikan alat produksi, upah kecil, daya tawar rendah, tabungan nihil, dan lemah mengantisipasi peluang.
3. Aspek psikologi, disebabkan adanya rendah diri, malas, dan rasa terisolir.
4. Aspek politik, berkaitan dengan kecilnya aspek terhadap berbagai fasilitas dan kesempatan, diskriminatif, dan posisi lemah dalam mengambil keputusan.
II.VI Strategi Penanggulangan Kemiskinan di Bekasi
Kategori miskin saat ini masih di maknai secara sempit, yaitu di nilai dari sisi ekonomi saja, padahal kemiskinan merupakan fenomena yang memiliki cakupan yang komplek. Penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah pada saat ini bukan menghasilkan tahapan penyelesaian masalah tetapi justru melahirkan permasalahan baru. Strategi pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan seringkali tidak sesuai dengan tingkat kebutuhan dan aspirasi masyarakat.
Kesejahteraan warga negara tidak hanya untuk satu masa saja melainkan untuk waktu yang panjang, oleh karena itu strategi penanggulangan kemiskinan dengan biaya dari hasil eksploitasi Sumber Daya Alam dengan mengundang investor asing sebanyak mungkin harus segera di tata ulang, apabila tidak maka dampak dari seluruh kebijakan saat ini akan sangat menyulitkan pada waktu yang akan datang. Dampak tersebut dapat berupa bencana alam dan dampak sosial yang tidak pernah di rasakan mapun terpikirkan sebelumnya. Akhirnya biaya yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar di gunakan untuk membiayai bencana alam yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh pendahulunya.
Strategi penanggulangan kemiskinan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan yang dilakukan saat ini adalah di mulai dengan menjaring kehendak rakyat, lebih menekankan pada pelayanan kebutuhan mendasar, berdasarkan pada kemandirian bangsa. Memperkuat civil society pada tingkat grass roots menjadi agenda penting untuk di lakukan secara terus-menerus. Lembaga non pemerintah menjadi aktor yang sangat penting. Pada saat yang bersamaan, penerapan prinsip-prinsip Good Governance (transparansi, akuntabilitas, dan penegakan supremasi hukum) dalam pengelolaan organisasi pemerintah daerah dan organisasi non pemerintah. Dengan demikian pemiskinan struktural dapat di tanggulangi secara dini dan tepat.
Adapun langkah jangka pendek yang diprioritaskan antara lain sebagai berikut:
· Mengurangi kesenjangan antar daerah dengan; (i) penyediaan sarana-sarana irigasi, air bersih dan sanitasi dasar terutama daerah-daerah langka sumber air bersih. (ii) pembangunan jalan, jembatan, dan dermaga daerah-daerah tertinggal. (iii) redistribusi sumber dana kepada daerah-daerah yang memiliki pendapatan rendah dengan instrumen Dana Alokasi Khusus (DAK) .
· Perluasan kesempatan kerja dan berusaha dilakukan melalui bantuan dana stimulan untuk modal usaha, pelatihan keterampilan kerja dan meningkatkan investasi dan revitalisasi industri.
· Khusus untuk pemenuhan sarana hak dasar penduduk miskin diberikan pelayanan antara lain (i) pendidikan gratis sebagai penuntasan program belajar 9 tahun termasuk tunjangan bagi murid yang kurang mampu (ii) jaminan pemeliharaan kesehatan gratis bagi penduduk miskin di puskesmas dan rumah sakit kelas tiga.












BAB III
PENUTUP

III.I Kesimpulan
Dari uraian makalah tersebut, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal diantaranya :
Kemiskinan adalah ketidakmampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan.
dekat dengan ibu kota Negara, jumlah penduduk, lahan pertanian yang produktif, dan kemampuan menarik investor untuk mendirikan industri.
Kemiskinan dapat dibagi menjadi beberapa pengertian.
Peralihan Bekasi dari agraris ke industri menimbulkan berbagai dampak sosial diantaranya adalah kemiskinan.
Kemiskinan disebabkan banyak factor dan aspek.
Untuk menanggulangi kemiskinan harus lebih menekankan pada kebutuhan mendasar berdasarkan pada kemandirian kehidupan bangsa.

III.II Saran
Dalam menghadapi kemiskinan di zaman global diperlukan usaha-usaha yang lebih kreatif, inovatif, dan eksploratif. Selain itu, globalisasi membuka peluang untuk meningkatkan partisipasi masyarakat Indonesia yang unggul untuk lebih eksploratif. Di dalam menghadapi zaman globalisasi ke depan mau tidak mau dengan meningkatkan kualitas SDM dalam pengetahuan, wawasan, skill, mentalitas, dan moralitas yang standarnya adalah standar global.
Upaya penanggulangan kemiskinan hingga saat ini telah banyak dilakukan terutama sejak Indonesia mengalami krisis ekonomi dan moneter semakin menggema dan dikenal masyarakat luas, bahkan dicari sebagian masyarakat untuk dapat menikmati program anti kemiskinan. Penyelesaian suatu masalah secara lebih strategik biasanya tidak kasatmata dan memerlukan waktu. Dalam kerangka optimalisasi program penanggulangan kemiskinan, perlu mengakomodasikan potensi keluarga miskin yang acapkali terabaikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar